Editor's Vids

Korea Style Sexy Lady

My Baby Imuet.3gp

1: PERBUATAN lAHIR DAN SUASANA HATI



SEBAGIAN DARIPADA TANDA BERSANDAR KEPADA AMAL (PERBUATAN LAHIR)
ADALAH BERKURANGNYA HARAPANNYA (SUASANA HATI) KETIKA MENGALAMI KESALAHAN.

Imam Ibnu Athaillah memulai Kalam Hikmat beliau dengan mengajak kita merenung ke hakikat amal . Amal dapat dibagi menjadi dua jenis yaituperbuatan zahir dan perbuatan hati atau suasana hati berhubungan denganperbuatan zahir itu . Beberapa orang dapat melakukan perbuatan lahir yangmirip tetapi suasana hati berhubungan dengan perbuatan zahir itu tidak mirip . 
Dampak praktek zahir ke hati berbeda antara seorang dengan seorang yanglain . Jika praktek zahir itu mempengaruhi suasana hati , maka hati itu dikatakanbersandar kepada amalan lahir . Jika hati dipengaruhi juga oleh praktek hati ,maka hati itu dikatakan bersandar juga kepada amal , terserap praktekbatin .  

Hati yang bebas dari bersandar kepada amal apakah amal zahiratau amal batin adalah hati yang menghadap kepada Allah dan meletakkanketergantungan kepada - Nya tanpa membawa apapun amal , lahir atau batin ,serta menyerah sepenuhnya kepada Allah tanpa takwil atauklaim . Hati yang demikian tidak menjadikan amalnya , lahir dan batin , walauberapa banyak sekalipun , sebagai alat untuk tawar menawar dengan Tuhan untukmendapatkan sesuatu . Praktek tidak menjadi perantara di antaranya denganTuhannya .  

Orang yang seperti ini tidak membatasi kekuasaan dankemurahan Tuhan untuk tunduk kepada perbuatan manusia . Allah s.w.t YangMaha Berdiri Sendiri berbuat sesuatu menurut kehendak - Nya tanpadipengaruhi oleh siapapun dan sesuatu . Apa saja yang mengenai Allah s.w.tadalah mutlak , tidak ada batas , perbatasan dan perbatasan .  

Oleh karena itu orang ariftidak membuat praktek sebagai perbatasan yang mengungkung ketuhananAllah swt atau ' memaksa ' Allah berbuat sesuatu menurut perbuatanmakhluk . Perbuatan Allah swt berada di depan dan perbuatan makhluk dibelakang . Tidak pernah terjadi Allah swt mengikuti perkataan dan perbuatanseseorang atau sesuatu.Sebelum menjadi seorang yang arif , hati manusiamemang berhubungan erat dengan praktek dirinya , baik yang lahir maupunyang batin .

 Manusia yang kuat bersandar kepada praktek zahir adalah merekayang mencari manfaat keduniaan dan mereka yang kuat bersandar kepadapraktek batin adalah yang menemukan manfaat akhirat . Kedua jenis manusiatersebut berkeyakinan bahwa amalannya menentukan apa yang mereka akanperoleh baik di dunia dan juga di akhirat . Kepercayaan yang demikian kadangkadangmembuat manusia hilang atau kurang ketergantungan dengan Tuhan .

Ketergantungan mereka hanyalah untuk praktek semata-mata atau jika
mereka tergantung kepada Allah swt, ketergantungan itu bercampur dengan
keraguan. Seseorang manusia dapat memeriksa diri sendiri apakah kuat atau
lemah cadangan devisanya kepada Allah s.w.t. Kalimat Hikmah 1 yang dikeluarkan
oleh Ibnu Athaillah memberi petunjuk tentang. Lihatlah ke hati
ketika kita terperosok ke dalam perbuatan maksiat atau dosa. jika kesalahan
yang demikian membuat kita menyerah dari rahmat dan pertolongan
Allah swt itu tandanya ketergantungan kita kepada-Nya sangat lemah. firman-
nya:


"Wahai anak-anakku! Pergilah dan intiplah berita tentang Yusuf dan
saudaranya (Bunyamin), dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat serta
pertolongan Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat dan pertolongan Allah
melainkan kaum yang kafir "
. (Ayat 87: Surah Yusuf)


Ayat di atas menceritakan bahwa orang yang beriman kepada Allah swtmenempatkan ketergantungan kepada - Nya walau dalam kondisi bagaimana sekalipun . Ketergantungan kepada Allah membuat hati tidak menyerah dalammenghadapi dugaan hidup . Kadang - kadang apa yang diinginkan , direncanakandan diusahakan tidak mendatangkan hasil yang diharapkan . kegagalanmendapatkan sesuatu yang diinginkan bukan berarti tidak menerima pemberianAllah s.w.t.

 Selagi seseorang itu beriman dan bergantung kepada - Nya selagiitulah Dia melimpahkan rahmat - Nya . Kegagalan memperoleh apa yangdihajatkan bukan berarti tidak mendapat rahmat Allah swt Apa juga yangAllah lakukan kepada orang yang beriman pasti ada rahmat - Nya ,meskipun dalam soal tidak menyampaikan hajatnya . Kepercayaan yangdemikian membuat orang yang beriman tabah menghadapi ujian hidup , tidaksekali - kali berputus asa . Mereka yakin bahwa ketika mereka sandarkan segalahal kepada Allah , maka apa juga amal kebaikan yang mereka lakukantidak akan menjadi sia - sia .

Orang yang tidak beriman kepada Allah swt berada dalam situasi yangberbeda . Ketergantungan mereka hanya tertuju kepada praktek mereka , yangterkandung di dalamnya ilmu dan usaha . Ketika mereka mengadakan sesuatuusaha berdasarkan kemampuan dan pengetahuan yang mereka ada , merekamengharapkan akan mendapatkan hasil yang setimpal . Jika ilmu dan usaha( termasuk pertolongan orang lain ) gagal mendatangkan hasil , mereka tidakmemiliki tempat bersandar lagi . Jadi mereka orang yang berputus asa .Mereka tidak dapat melihat hikmat kebijaksanaan Allah swt mengaturperjalanan takdir dan mereka tidak mendapat rahmat dari - Nya .


Jika orang kafir tidak bersandar kepada Allah swt dan mudah menyerah , dikalangan sebagian orang Islam juga ada yang demikian , tergantung sejauhmana sifatnya menyerupai sifat orang kafir . Orang yang seperti ini melakukanpraktek karena kepentingan diri sendiri , bukan karena Allah swt orang inimungkin mengharapkan dengan amalannya itu dia dapat mengecapikemakmuran hidup di dunia.Dia mengharapkan semoga amal kebajikan yangdilakukannya dapat mengeluarkan hasil dalam bentuk bertambah rezekinya ,kedudukannya atau pangkatnya , orang lain semakin menghormatinya dan diajuga dihindarkan dari bala penyakit , kemiskinan dan sebagainya .Bertambah banyak amal kebaikan yang dilakukannya bertambah besarlahharapan dan keyakinannya tentang kesejahteraan hidupnya .


Sebagian kaum muslimin yang lain mengaitkan amal kebaikan dengankemuliaan hidup di akhirat . Mereka memandang amal salih sebagai tiket untukmemasuki surga , juga untuk menjauhkan azab api neraka . spiritualitas orangyang bersandar kepada amal sangat lemah , terutama mereka yang mencarikeuntungan duniawi dengan amal mereka . Mereka tidak tahan menempuhtes . Mereka mengharapkan perjalanan hidup mereka selalu nyaman dansegala - segalanya berjalan menurut apa yang direncanakan . Apabila sesuatu ituterjadi di luar harapan , mereka cepat naik panik dan gelisah . bala bencanamembuat mereka merasakan yang merekalah manusia yang paling malang diatas muka bumi ini . Bila berhasil memperoleh sesuatu kebaikan , merekamerasakan keberhasilan itu karena kepandaian dan kemampuan mereka sendiri .Mereka mudah menjadi ego serta suka membual .


Ketika rohani seseorang bertambah teguh dia melihat amal itu sebagai jalanuntuknya mendekatkan diri dengan Tuhan . Hatinya tidak lagi cenderungkepada manfaat duniawi dan ukhrawi tetapi dia berharap untuk mendapatkankarunia Allah swt seperti terbuka hijab - hijab yang menutupi hatinya . orangini merasakan amalnya yang membawanya kepada Tuhan . dia seringmengaitkan pencapaiannya dalam bidang kerohanian dengan amal yang banyakdilakukannya seperti berzikir , shalat sunat , puasa dan lain - lain . biladia tertinggal melakukan sesuatu amal yang biasa dilakukannya atau bila diatergelincir melakukan kesalahan maka dia merasa dijauhkan oleh Tuhan . Inilahorang yang pada tahap awal mendekatkan dirinya dengan Tuhanmelalui praktek tarekat tasawuf .


Jadi , ada orang yang bersandar kepada amal semata - mata dan ada pulagolongan yang bersandar kepada Tuhan melalui amal . Kedua golongantersebut berpegang kepada efektivitas amal dalam mendapatkan sesuatu .Golongan pertama kuat berpegang kepada amal lahir , yaitu perbuatan zahiryang dinamakan usaha atau ikhtiar .


 Jika mereka tersalah memilih ikhtiar ,hilanglah harapan mereka untuk mendapatkan apa yang mereka hajatkan . anggotatarekat yang masih diperingkat awal pula kuat bersandar kepada praktekbatin seperti shalat dan berzikir . Jika mereka tertinggal melakukansesuatu praktek yang biasa mereka lakukan , akan berkurang harapan merekauntuk mendapatkan penghargaan dari Allah s.w.t. Jika mereka tergelincirmelakukan dosa , akan putuslah harapan mereka untuk mendapatkan penghargaanAllah s.w.t.

Dalam hal bersandar kepada amal ini , termasuk juga bersandar kepadailmu , baik ilmu lahir atau ilmu batin . Ilmu zahir adalah ilmu administrasidan manajemen sesuatu hal menurut kekuatan akal . Ilmu batin pula adalahilmu yang menggunakan kekuatan internal untuk menyampaikan hajat . Initermasuk penggunaan ayat - ayat al - Quran dan jampi . kebanyakan orangmenempatkan efektivitas kepada ayat , jampi dan usaha , hinggakan mereka lupakepada Allah swt yang menempatkan efektivitas kepada tiap sesuatu itu .Selanjutnya , jika Tuhan izinkan , kerohanian seseorang meningkat kemakam yang lebih tinggi . Nyata di dalam hatinya maksud kalimat:


Tidak ada daya dan upaya kecuali beserta Allah ." Padahal Allah yang menciptakan kamu dan benda - benda yang kamu perbuat itu ! "  ( Ayat96 : Surah as - Saaffaat )

Orang yang di dalam makam ini tidak lagi melihat kepada amalnya , meskipunbanyak amal yang dilakukannya namun , hatinya tetap melihat bahwa semuapraktek tersebut adalah karunia Allah kepadanya . Jika tidak karena taufikdan hidayat dari Allah swt tentu tidak ada amal kebaikan yang dapatdilakukannya . Allah s.w.t berfirman :


" Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau akuakan nikmat pemberian - Nya . Dan ( sebenarnya ) siapa yang bersyukurmaka manfaat syukurnya itu hanyalah terserah dirinya sendiri , dan siapa yangtidak bersyukur ( maka tidaklah menjadi masalah kepada Allah ) , karena sesungguhnyaTuhanku Maha Kaya lagi Maha Pemurah " . ( Ayat 40 : Surah an - Naml )


Dan tiadalah kamu berkemauan ( melakukan sesuatu ) melainkan dengan carayang diinginkan Allah ; sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi MahaBijaksana ( mengatur setiap hal yang diinginkan - Nya ) . ia memasukkansiapa yang dikehendaki - Nya ( menurut aturan yang ditetapkan ) ke dalam rahmat - Nya( dengan ditempatkan - Nya di dalam surga ) ; dan orang - orang yang zalim , Iamenyediakan untuk mereka azab yang pedih . ( Ayat 30 & 31 :Surah al - Insaan )


Semuanya adalah karunia Allah SWT dan menjadi milik - Nya . orang inimelihat kepada takdir yang Allah tentukan , tidak terlihat olehnyaefektivitas perbuatan makhluk termasuk perbuatan dirinya sendiri .Makam ini dinamakan makam ariffin yaitu orang yang mengenal Allah swtGolongan ini tidak lagi bersandar kepada amal namun , merekalah yang palingkuat mengerjakan amal ibadah .


Orang yang masuk ke dalam lautan takdir , reda dengan segala yang ditentukanAllah swt , akan selalu tenang , tidak berdukacita bila kehilangan atauketiadaan sesuatu . Mereka tidak melihat makhluk sebagai penyebab atauprodusen efek .


Di awal perjalanan menuju Allah swt , seseorang itu kuat beramal menuruttuntutan syariat . Dia melihat praktek itu sebagai kendaraan yang dapatmembawanya hampir dengan Allah s.w.t. Semakin kuat dia beramal semakinbesarlah harapannya untuk berhasil dalam perjalanannya . Ketika dia mencapaisatu tingkat , pandangan mata hatinya terhadap amal mulai berubah . Dia tidak lagimelihat praktek sebagai alat atau penyebab . Pandangannya beralih kekarunia Allah s.w.t.  


Dia melihat semua amalannya adalah karunia Allah SWTkepadanya dan kehampirannya dengan Allah swt juga karunia - Nya .Selanjutnya terbuka hijab yang menutupi dirinya dan dia mengenali dirinya danmengenali Tuhannya . Dia melihat dirinya sangat lemah , hina , jahil , serbakekurangan dan faqir .  

Tuhan adalah Maha Kaya , Berkuasa , Mulia , Bijaksana danSempurna dalam segala hal . Bila dia sudah mengenali dirinya dan Tuhannya ,pandangan mata hatinya tertuju kepada qudrah dan iradah Allah yangmemimpin segala sesuatu dalam alam maya ini . Jadi dia seorang arif yangselalu memandang kepada Allah , berserah diri kepada - Nya , tergantungdan berhajat kepada - Nya . Dia hanyalah hamba Allah s.w.t yang faqir . (Bersambung ke bagian 2)

Kitab Ihya Ulumuddin

Kitab Ihya 'Ulumuddin mahakarya Abu Hamid, Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali At-Thusi, terjemahan Bahasa Indonesia.




Hak & Kewajiban Suami Istri

Pengenalan Tarekad Naqsyabandiya

Seminar Internasional Teknologi Al-Quran (19-20 Juni 1986)

Pengamalan Tharekat 2 : Suluk